" PENDIDIKAN BERKUALITAS"
SEBUAH BOMERANG KEBIJAKAN DALAM REALITA

  Sebuah kata yang “sakral”  bagi kalangan yang mendengarnya. Mengapa tidak? Hal ini sudah jelas bahwa tujuan dari pendidikan di negara indonesia yaitu “ pendidikan berkulitas”. Namun ironisnya fakta terlihat  bahwasanya untuk meraih sebuah kalimat yang hanya gabungan dari dua kata pendidikan dan kualitas tersebut sungguh tidak semudah mengucapkannya  lalu menghela nafas dengan begitu rileks.

   Maraknya isu-isu pendidikan yang dari tahun ke tahun menjadi PR bagi pemerintah terutama bagi para pengambil kebijakan pendidikan. Sebagai pengambil kebijakan tentulah tidak mudah dalam menentukan kebijakan seperti apa yang harus di rancang agar sekiranya mampu untuk memperjelas tentang isu-isu tersebut. Isu yang selalu menjadi andalan dalam dunia pendidikan terutama yang berkaitan dengan kualitas pendidikan yang lebih mengarah pada kemampuan kognitif pada peserta didik.kualitas pendidikan bukan hanya di lihat dari kemampuan kognitif anak akan yang lebih di utamakan dalam dunia pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan yang dilaksanakan. Berkaitan dengan sebuah proses adalah suatu hubungan keterkaitan berbagai elemen-elemen pandidikan yang menjadi satu kesatuan dalam sebuah sistem. Sistem pendidikan yang baik adalah sistem yang tidak hanya melihat dari kulit saja akan tetapi bagaimana sebuah sistem itu dapat mendongkrak skill yang terpendam pada setiap individu manusia.

   Sistem pendidikan di indonesia masih perlu untuk diperbaharui lebih jauh. Berkaitan dengan hal tersebut juga adalah tentang kebijakan pendidikannya. Berdasarkan daftar kebijakan pendidikan yang ditentukan 1-2 tahun belakangan menjadi sebuah bomerang bagi bangsa kita. Hal ini nampak bahwa kebijakan yang selama ini di dengung-dengungkan kepada masyarakat  tidak sesuai dengan realita. Sebagai bukti salah satunya berkaitan dengan pendidikan murah. Pendidikan murah ini dipasangkan dengan kebijakan pemerintah adanya dana pendidikan 20% . pengalokasian dana tersebut ke lembaga satuan pendidikan ternyata hanya baru beberapa posrsen saja. Sedangkan sudah dengungkan bahwa kebijakan tersebut untuk memudahkan masyarakat yang kurang untuk tetap mengenyam pendidikan minimal pendidikan 9 tahun dalam rangkai pencapaian pendidikan yang berkualitas. Tapi realitanya berbeda dan sangat memperihatinkan. Oleh karena itu mari bersama kita coba untuk memberikan sumbangsih terhadap dunia pendidikan kita dengan cara apa saja yang kita mampu. Demi pendidikan yang lebih baik.

                           BIODATA PENULIS
 
Nama          : ENDANG MULYAWATI

Status        : Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Jurusan       : Analisis Kebijakan Pendidikan S1

Ankatan      : 2007

Asal           : Sumbawa , Nusa Tenggara Barat